Inilah satu-satunya Masjid Kota berpenduduk Empat Juta jiwa – Catatan Perjalanan ke-3

Inilah satu-satunya masjid di kota Liuzhou. Masjid Kota Liuzhou. Kami se-rombongan dari Indonesia harus naik bis menuju tempat ini untuk sholat Jumat. Jarak dari kampus LZPU ke kota kira-kira 30 menit perjalanan, atau 20an km. Masjidnya berada di dekat pusat pertokoan dengan segala aktivitas niaganya. Tidak terlalu besar bangunan masjidnya. Bangunan lawas yang konon memiliki sejarah yang bisa ditelusuri sejak tahun 1673 ini memiliki 9 shaf (baris) dengan masing-masing baris bisa menampung sekitar 25 jamaah. Jadi masjid ini hanya mampu menampung sekitar 225 orang jamaah.

Selama berada di sini, kami dua kali melaksanakan sholat jumat. tidak ada perbedaan dari kedua pelaksanaan sholat yang kami lakukan: Jumlah jamaah sama, orang-orang yang sholat juga sama, kebanyakan dari mereka adalah etnis melayu, Indonesia dan Malaysia, dan hanya sedikit yang dari etnis Timur Tengah dan warga lokal. Yang unik dari masjid ini adalah pelaksanaan sholatnya. Khatib merangkap Imam sekaligus muadzin (adzan dan iqomah). Jadi setelah adzan dikumandangkan, khatib menuju mimbar untuk khutbah, selesai khutbah lalu iqomah dan menjadi Imam. Waktu khutbah sangat singkat: tiga menit. Meski sangat singkat, rukun khutbah jumat sudah terpenuhi: memuji Allah, membaca shalawat, berwasiat tentang ketakwaan, membaca ayat Al Quran dan mendoakan kaum Muslimin saat khutbah kedua. Tidak ada speaker di masjid ini sehingga suara adzan, iqomah dan khutbah hanya terdengar di dalam ruang masjid. Mungkin kita bertanya dalam hati, mengapa hanya ada satu masjid di kota ini, padahal jumlah penduduk di sini lebih dari 4 juta jiwa.

Di Tiongkok, jumlah tempat ibadah sangat sedikit. Bukan hanya masjid, gereja dan kuil pun jumlahnya bisa dihitung cepat di tiap-tiap kota. Ada undang-undang di sana yang menyatakan bahwa ibadah harus dilakukan secara pribadi, tidak boleh dilakukan secara berkelompok apalagi jika mengganggu ketertiban umum. Ibadah hanya boleh dilakukan di tempat-tempat ibadah yang sudah terdaftar dari Pemerintah. Di tempat lain, misalnya di gedung-gedung, kita mesti harus ijin kepada pengelola gedung untuk melaksanakan sholat. Kami pernah minta ijin kepada pengelola asrama tempat kami menginap untuk sholat jamaah. Awalnya pengelola gedung agak keberatan tetapi kita bilang bahwa kami di Indonesia selalu mengerjakan sholat berjamaah, akhirnya mereka mengijinkan. Selama di asrama, Alhamdulillah kami selalu bisa sholat jamaah Magrib, Isya dan Shubuh berjamaah, bahkan ada kultum ba’da Shubuh. Kami berhasil meyakinkan pengelola gedung bahwa sholat jamaah kami tidak akan mengganggu ketertiban umum dan juga bukan merupakan kegiatan yang mencolok.

Atheis di Tiongkok

Mayoritas orang Tiongkok tidak beragama. Ada beberapa hal penyebabnya (dola.com)
1.⁠ ⁠Pengaruh Kebijakan dan Ideologi Negara
•⁠ ⁠Ideologi resmi: Pemerintah Tiongkok dipimpin oleh Partai Komunis Tiongkok yang berlandaskan paham Marxis-Leninis, yang secara teoritis mendukung ateisme ilmiah dan memandang agama sebagai hal yang akan hilang seiring kemajuan masyarakat. Anggota partai diwajibkan untuk tidak beragama.
•⁠ ⁠Pengaturan kegiatan agama: Sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok tahun 1949, pemerintah telah mengawasi dan membatasi kegiatan agama melalui organisasi yang dikendalikan negara. Tempat ibadah yang tidak terdaftar dapat ditutup, dan pengajaran agama di sekolah umum dilarang. Hal ini membuat banyak orang tidak terbiasa berpartisipasi dalam kehidupan keagamaan secara terbuka.
•⁠ ⁠Periode Gerakan Budaya (1966–1976): Selama masa ini, tempat ibadah dirusak, kitab suci dibakar, pemuka agama dianiaya, dan segala bentuk praktik agama dilarang keras. Hal ini memutuskan transmisi kepercayaan dari generasi ke generasi bagi banyak keluarga.
2.⁠ ⁠Latar Belakang Sejarah dan Budaya
•⁠ ⁠Tradisi filsafat yang tidak berpusat pada Tuhan: Budaya Tiongkok sangat dipengaruhi oleh ajaran Konfusianisme dan Taoisme — yang lebih bersifat pandangan hidup, pedoman etika, atau cara hidup daripada agama yang mewajibkan pengakuan kepada Tuhan secara mutlak. Konfusianisme menekankan etika, kesusilaan, dan kewajiban antar manusia, bukan pengabdian kepada makhluk gaib. Taoisme lebih menekankan keselarasan dengan alam.
•⁠ ⁠Agama rakyat yang tidak terorganisir: Banyak praktik kepercayaan Tiongkok berupa pemujaan leluhur, upacara musim, dan takhayul sehari-hari yang tidak memiliki doktrin resmi, gereja, atau pendeta tetap. Ini sering tidak tercatat sebagai “beragama” dalam sensus atau pandangan sendiri.
•⁠ ⁠Pengaruh agama lain: Agama seperti Buddha dan Islam memang ada dan diakui secara terbatas, namun penyebarannya tidak merata dan tetap menjadi minoritas.
3.⁠ ⁠Kemajuan Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan
•⁠ ⁠Sistem pendidikan nasional Tiongkok sejak usia dini mengutamakan ilmu pengetahuan alam, pemikiran ilmiah, dan penjelasan rasionalitas atas segala fenomena. Materi pelajaran tidak memuat ajaran agama. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, umumnya semakin kecil kemungkinan mengaku beragama.
•⁠ ⁠Industrialisasi dan modernisasi yang pesat juga mengubah pola pikir masyarakat: kesejahteraan materi, karier, dan pendidikan menjadi fokus utama, sehingga peran agama dalam kehidupan sehari-hari semakin menurun.


(Joko Triyono, Liuzhou, 14 Agustus 2026)

Please follow and like us:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *